Home / Sastra

Senin, 8 Maret 2021 - 09:55 WIB

Wanita Setengah Kehidupan

Foto: Intan Fadhilah

Sarah tumbuh dan hidup, melawan segala kejahatan yang menimpa dirinya di masa lalu. Ia melihat tepat di depan mata, saat kedua orang tuanya saling bertengkar dan menyalahkan. Dan di usia sembilan tahun, Sarah harus menjalani hidupnya seorang diri saat ibu dan ayahnya berpisah. Mereka bahkan tak pernah menganggap anak perempuannya ini sebagai putri kandung.
“Dahulu, ayah dan ibu pergi, aku bingung harus menetap di mana. Hingga pada akhirnya pamanku yang baik hati rela menghidupi dan mendidikku menjadi seorang wanita yang utuh. Tapi, saat aku berumur lima belas tahun, ia meninggal dunia. Dan aku harus hidup sendiri lagi.”
Usianya di angka ke-15 benar- benar menjadi momok buruk bagi sarah. Berusaha sendiri, belum lagi ia merupakan wanita yang sulit untuk berteman. Hal ini cukup membuat batinnya kian terkucilkan.

Sarah berlalu dari seorang anak berumur sepuluh tahun, beranjak menjadi wanita dewasa. Kini, di usianya yang ke-24, mencoba membuka setiap lembaran baru dan menutup segala bab di masa lalu — yang kelam dan penuh dengan emosi — sarat akan luka yang tak terlihat, membuatnya kian terbenam akan rasa sakit dari dalam — di kala itu.

Memang benar Sarah tumbuh dari masa lalu yang kelam. Ia pernah mengalami pelecehan seksual dari beberapa teman laki-laki di sekolahnya. Sarah berparas cantik dan manis, berkulit putih namun tidak pucat. Dengan kelebihannya itu, seolah menjadi mangsa bagi para lelaki kotor.
Sejak tinggal bersama pamannya, Sarah telah diajarkan arti seorang wanita. Maka ia melindungi dirinya dengan berpakaian sederhana, tidak mencolok, dan berhijab. Tapi usahanya itu terasa tidak berguna sama sekali karena ada saja lelaki jahat datang dan mengganggunya.

Pelecehan seksual jelas menjadi mimpi buruk bagi Sarah. Mulai dari lisan hingga fisik, sudah pernah ia alami sejak SMA. Gadis ini kian tertekan ketika ada seorang guru olahraga di sekolah berusaha untuk memperkosanya. Kejadian itu bermula saat Sarah sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran olahraga. Karena saat pelajaran pertama itu matematika, maka ia memutuskan untuk mengenakan seragam putih abu-abu.

Olahraga adalah pelajaran selanjutnya, dan Sarah mengganti seragamnya di toilet wanita. Di dalam sana, seorang guru olahraga sudah menanti Sarah tanpa ia sadari sebelumnya. Dan ketika gadis ini mengganti seragam sekolahnya, aksi jahat guru olahraga ini, yang dikenal sebagai pak Alex, dimulai.

Singkat cerita, Sarah meminta tolong dan para siswa serta guru-guru lainnya lalu berdatangan. Tapi, pak Alex sudah lebih dulu melarikan diri. Hingga, tak ada satu pun yang percaya apa yang diadukan oleh sarah tentang perbuatan iblis pak Alex kepada para guru, dan bahkan kepala sekolah pun juga demikian. Mereka semua malah menuduh Sarah stress karena menjerit-jerit seorang diri.

Tepat sebulan waktu berlalu, Sarah akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena dianggap telah menuduh pak Alex tanpa adanya bukti. Dan dengan tanpa berdosa, guru olahraganya ini terus melanjutkan aktivitas mengajarnya. Sedangkan Sarah harus angkat kaki.
Sejak dikeluarkan dari sekolah, Sarah tidak lagi melanjutkan pendidikannya oleh karena tidak punya uang. Maka ia memilih untuk bekerja sebagai penyapu jalan dan mendapat upah secukupnya. Hari demi hari dilalui oleh Sarah dengan penuh rasa trauma. Betapa tidak, bukan sekali ataupun dua kali gadis ini mengalami pelecehan seksual. Ia sudah berkali-kali menerima perbuatan jahat ini dari beberapa lelaki yang berbeda. Bahkan pak Alex sudah melakukannya lebih dari tiga kali, yang sangat parah tentu saja percobaannya memperkosa Sarah. Sedangkan Ben, teman sekelas Sarah, sudah lima kali melakukan perbuatan kotornya itu.

Bahkan, ketika Sarah sedang menyapu jalanan, ada saja lelaki yang mengganggunya. Namun ia tetap mencoba bersabar, walaupun sebenarnya batinnya sudah tidak sanggup lagi untuk menjerit.

***

“Aku hanya ingin lari dari orang-orang itu. Aku ingin berlindung dari mereka. Aduan ku tak dipedulikan. Jeritanku tak ada yang mendengar. Aku bingung harus bagaimana. Setiap saat aku ingin bekerja, bertemu dengan orang-orang… tapi aku takut. Aku takut mereka akan melakukannya. Pasti mereka akan melakukannya lagi.”

***

Kini Sarah sudah berumur dua puluh empat tahun. Masih cukup muda memang. Tapi rasa trauma yang telah menderita batinnya, tak bisa lagi disembunyikan. Beberapa kali ia memutuskan untuk bunuh diri, tapi Tuhan masih menyayanginya.

Sarah beralih profesi menjadi seorang musisi. Ia suka menciptakan lagu, dan suaranya pun merdu untuk didengar semua kalangan orang. Rasa takut, trauma, serta depresi benar-benar mewarnai lagu ciptaannya sendiri. Seolah-olah ingin meminta tolong pada orang-orang untuk menyelamatkan dirinya dari mimpi buruk masa lalu.

Bahkan di usia sekarang ini pun belum benar-benar membuatnya keluar dari suramnya cerita lama. Sarah memang semakin dikenal orang sejak ia berkarier di dunia musik, tapi lelaki iblis masih senantiasa hidup di sisinya, masih belum juga bersih.

Hingga waktu kian berjalan memangkas setiap masa depan, Sarah masih harus hidup di dalam lingkungan kegelapan. Tapi, tubuhnya kini sudah tidak terlalu kuat untuk menopang segala beban dari dalam. Hingga Sarah pun menggambarkan dirinya dalam sebuah lagu “Wanita Setengah Kehidupan”. Semua bercerita tentang kehidupannya dan harapannya di dunia ini.

***

“Aku hanya seorang wanita, yang oleh Tuhan diberikan hak untuk hidup. Aku hanyalah wanita yang dituntut untuk menjaga diri, tapi kau malah mencari segala cara untuk merusakku. Aku ini wanita yang dilahirkan sebagai perhiasanmu, tapi kau memilih untuk meretakkannya. Memang, sudah tak sanggup lagi aku untuk menjerit. Memang, akulah wanita yang selalu disalahkan padahal aku sudah menutup diri. Tolong hentikanlah… karna aku begitu tertekan. Tolong jangan lagi menganggapku sebagai wanita hina yang bisa kau permainkan sesuka hati. Tolong… aku terlalu takut untuk memulai kehidupan baru jika suatu hari nanti ada lelaki yang ingin melamarku. Cukup sudah kau membuatku menjadi wanita setengah kehidupan. Cukup sudah…”


-Breaking Reza-
Tulisan ini juga diterbitkan di Medium.com dengan judul “Wanita Setengah Kehidupan”

Share :

Baca Juga

Sastra

Tentang Awan

Sastra

Dua Arah

Sastra

“Rindu Yang Tak Lagi Berbalas”

Sastra

Salam Perjuangan.

Sastra

Kita Akan Bertemu Pada Hari Raya Rindu

Sastra

Sunyi Dipenjara Yang Tidak Berjeruji

Sastra

Memilikimu

Sastra

Belum Berjudul