Home / Sastra

Rabu, 19 Mei 2021 - 00:09 WIB

Salam Perjuangan.

Sumber foto : www.wattpad.com

Semangat berjuang kawan,
Hey kau yang bersuara lantang dan tegas yang memperjuangkan arti kemanusiaan yang berasas
Yang rela turun ke jalan walau disengat panas
Dengan kotak ditangan tampa mengharap balas.

Saya tau kalian tidak dibayar kawan
Saya tau kalian tidak ada yang menyuruh kawan
Saya tau tak ada yang mengintimidasi kalian kawan.

Hey hati yang tergerak berteriak menangis
Yang tak mampu melihat kekejaman didepan mata
Yang tak mampu mendengar tangis di negri nan jauh sana.

Kawan,
Di timur tengah saudara kita berada
Mereka di jajah hingga tak bisa lengah
Mereka di tindas hingga shalat pun hilang alas.

Hey kaum biadab,
Karenamu banyak saudara-saudara kami yang hilang atap
Karenamu ayah dan anak tak lagi bisa saling tatap.

Mengapa kau merusak tempat ibadah bahkan membantai kaum yang tak bersalah?
Mengapa rakyat lemah dan anak anak kau bantai tanpa rasa bersalah.

Selamat berjuang kawan,
Titipkan salamku pada mereka yang berdasi
Titipkan doaku pada mereka yang berseragam rapi pada mereka yang berbaju coklat bahkan loreng loreng dengan senjata lengkap.

Kawanku,
Lawanmu bukanlah kami yang hanya membawa selembaran karton
Lawanmu bukan papua saudara setanah air kita lawanmu bukanlah rakyat di negri ini.

Disanalah lawanmu
Di tempat yang sesak dengan pertumpahan darah yang penuh dengan ratapan, tangisan dan air mata,
Namun tak pernah lupa bersujud kepada sang pencipta.

Salamat berjuang kawan,
Berdirilah disana dengan badan tegapmu
Bantai lah penjajah itu dengan senjata lengkapmu, perlihatkanlah pada mereka bahwa kalian tak akan kalah apalagi menyerah
Takkan patah semangat walau bermandikan darah.

Selamat berjuang kawan,
Kawan secuil keringatmu hari ini membuktikan bahwa kita di posisi yang mana.

Salam dari kami anak desa yang merindukan kedamaian.

Penulis : Rahmat Hidayatdi

Share :

Baca Juga

Sastra

Ada Apa Dengan Mahasiswa

Sastra

Sahabat

Sastra

Khitah Ber-HMI

Sastra

Belum Berjudul

Sastra

Perantara

Sastra

FOBIA

Opini

“Jatuh Cinta Berkali-kali”

Sastra

Dua Arah