Home / Dunia

Jumat, 25 Februari 2022 - 15:40 WIB

Rusia Gempur Ibu Kota Kiev, Ukraina Semakin Tertekan

Foto: Gempuran Rusia di wilayah Ukraina/AFP

GUBRIS.COM-JAKARTA, Agresi militer Rusia terus meluas dan semakin menekan Ukraina, terutama ketika gempuran pasukan Presiden Vladimir Putin terus mendekati Ibu Kota Kiev pada Jumat (25/2).

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba memaparkan hujanan rudal Rusia mengguncang Ibu Kota Kiev sejak Jumat pagi buta. Kuleba menggambarkan ibu kota Kiev tak pernah mengalami serangan ‘seperti ini’ sejak zaman Nazi di 1941.

Ledakan ini terjadi di hari kedua invasi Rusia ke Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer yang semula di klaimnya berlangsung hanya di Donbas, timur negara itu.

Namun nyatanya, Putin mengerahkan invasi Rusia skala besar di darat dan udara ke Ukraina, Kamis (24/2). Akibat serangan Rusia setidaknya 137 orang tewas termasuk personel militer Ukraina dan warga sipil, sementara sedikitnya 100 ribu orang mengungsi.

Amerika Serikat dan sekutunya merespons invasi dengan berbagai sanksi, tetapi belum mengerahkan pasukan mereka untuk membantu Ukraina.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang katanya telah mengaktifkan “rencana pertahanan” untuk negara sekutu, juga tak berencana mengirimkan pasukan bantuan ke Ukraina.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menilai negaranya ‘dibiarkan sendiri’ menghadapi invasi Rusia terlepas dari janji dan dukungan dari banyak negara, terutama AS dan NATO.

Baca Juga  50 Hari Setelah Pelantikan, Kinerja DEMA UIN Ar-Raniry Stagnan Tanpa Progres

“Siapa yang siap berperang bersama kami? Saya tidak melihat siapapun?” katanya, dikutip dari AFP.

Sementara AS dan NATO masih urung mengirimkan pasukan ke Ukraina, pasukan Rusia disebut telah menguasai pembangkit listrik nuklir Chernobyl, meningkatkan kekhawatiran dunia akan terjadinya perang nuklir.

Zelensky menilai serangan ke Chernobyl ini merupakan deklarasi perang kepada seluruh wilayah Eropa.

Tak hanya di Chernobyl, perang juga terjadi di Odessa. Sebanyak 18 orang terbunuh di pangkalan militer yang berada dekat dengan pelabuhan Laut Hitam Odessa.

Beberapa saksi juga mengatakan kepada AFP bahwa sejumlah pasukan terjun payung Rusia merebut kendali atas lapangan udara Gostomel.

“Helikopter datang dan pertempuran dimulai. Mereka menembakkan senjata mesin, peluncur granat,” kata salah satu warga, Sergiy Storozhuk.

Pasukan Rusia juga terus bergerak ke Ukraina lewah tiga titik, yakni utara, selatan, dan timur. Pergerakan ini memaksa banyak warga Ukraina pergi dari rumah mereka untuk berlindung.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghancurkan lebih dari 70 target militer Ukraina, termasuk 11 lapangan udara, Kamis (24/2). Intelijen Barat mengonfirmasi kabar ini dan menyatakan Moskow telah menguasai wilayah udara Ukraina.
Presiden Zelensky juga telah menetapkan mobilisasi seluruh pasukan Ukraina dan memprediksi setidaknya 800 pasukan Rusia telah terbunuh selama pertempuran di berbagai wilayah.

Baca Juga  Menag Terbitkan Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala

Sementara itu, banyak warga Ukraina yang masih menetap di stasiun kereta bawah tanah yang dijadikan mereka sebagai bungker darurat demi menghindari tembakan rudal dan bom Rusia.

“Sementara kami mendengar sirene serangan udara, Andi dapat membayangkan betapa paniknya orang-orang di kota ini yang terguncang dari tempat tidur mereka karena ledakan gemuruh yang terjadi di sekitar kami,” kata salah satu warga Kiev, Matthew Chance kepada CNN, Kamis (24/2).
Gelombang pengungsi Ukraina juga mulai berdatangan ke sejumlah negara tetangga Ukraina seperti Polandia, Hungaria, dan Rumania.

Warga Ukraina juga mulai menumpuk di salah satu stasiun Polandia yang tak jauh dari perbatasan kedua negara.
“Siapapun yang bisa sedang berangkat,” kata Krisztian Szavla, salah satu pengungsi Ukraina yang tiba di Hungaria, Kamis (24/2).

Sumber: cnn.com

Share :

Baca Juga

Dunia

Presiden Putin Umumkan Operasi Militer Rusia di Ukraina

Dunia

Ukraina Dighosting Amerika dan Nato

Dunia

Ukraina Tempuh Pertemuan Dengan Rusia Terkait Penambahan 100.000 Pasukan di Perbatasan