Home / Sastra

Rabu, 12 Mei 2021 - 19:00 WIB

Dua Arah

Foto oleh: Breaking Reza

Foto Oleh Breaking Reza

Berandai untuk memaksa kenyataan dalam ilusi panjang, tak bertujuan ke mana persinggahannya, tak menentu arah langkahnya, tak juga diketahui kebenaran yang sebenarnya.

Mencaci dalam ketidakterimaan, membenci karna sulit untuk hanya sekedar mengungkapkan kejujuran, hingga tak berwujud apa-apa yang ada dalam genggaman, sirna begitu saja terbawa oleh angin.

Beribu arah terlewati, ada banyak serpihan pertanyaan tak bermakna mengotori hati, ada banyak kebenaran yang berdebu. Dalam hati yang semakin terguncang oleh badai topan, terbawa… terseret… dan tersesat. Semakin tersesat…

Mencoba membuka lembaran lama, semua berisi kenangan hampa. Tak kuasa untuk menahan bendungan air mata, yang membanjiri pipi teduhnya.

Merahnya mata seolah memberi pesan, amukan amarahnya kian tak terkontrol. Getaran yang terasa di dua lutut topangan kaki berdiri, seakan memberi kabar bahwa ia semakin tenggelam termakan oleh keraguan dan gelisah.

Baca Juga  Ibu

Karna kini hanya tersisa serpihan bayangan hitam, terus menemani hari-hari gelapnya… menariknya ke dalam dan merasakan api hitam yang bergejolak. Membakar segala asa yang dimilikinya.

Jati diri yang hilang arah tujuan, semakin terbenam seiring cahaya kegelapan memberi warna dalam kalbu. Asap kabut yang terus menerpa menutup segala sisi perjalanan, membutakan pandangan hati, membuyarkan tatapan ke depan, menghentikan gerak laju perjalanan.

Hidup yang terasa seakan menyempit, dari semua teriakan derita, sungguh hari kelabu membuyarkan segala harapan.

Apa yang seharusnya dia lakukan, untuk kembali merasakan jiwanya yang telah hilang?

Apa yang seharusnya ia perbuat, untuk menghidupkan cahaya batin yang padam?

Di mana tempatnya berteduh, agar dua arah menjadi satu persimpangan?

Baca Juga  “Jatuh Cinta Berkali-kali”

Di mana jejak tapak dirinya, yang telah memisahkan diri dari kenyataan fiksi?

Jika surga memang tak berhak menjadi tempatnya kembali…

Jika siksaan adalah hukuman yang harus dijalani…

Rintikan air mata yang memohon ampunan dosa, masih terdengar jelas dari seluk batinnya yang semakin pudar.

Seandainya dia berada dalam sebuah hari pengampunan, akankah ia menerima segala bentuk kasih sayang?

Nadinya masih berdenyut, napasnya juga terkadang memburu

Menahan benci dan meredakan tawa ria di waktu bersamaan

Dia masih berada dalam dua sisi yang berbeda… menuju salah satu dari dua arah yang akan menentukan akhir perjalanan hidup… sampai mata tertutup dan jantung berhenti memompa darah…

Hingga nyawa terpisah untuk selamanya

Tapi teruslah berdoa…

_______

-Breaking Reza

Share :

Baca Juga

Sastra

Ibu

Sastra

Tentang Awan

Sastra

Sunyi Dipenjara Yang Tidak Berjeruji

Sastra

Memilikimu

Kesehatan

Puisi Pilu

Sastra

FOBIA

Sastra

Khitah Ber-HMI

Sastra

Perantara