Home / Pendidikan

Jumat, 1 Oktober 2021 - 22:58 WIB

Adaptasi Model Pendidikan di Era New Normal

Foto: Mutawaliannur, Ketum HMI Cab. Banda Aceh/Ist.

Oleh: Mutawaliannur
(Peserta Latihan Kader III HMI Badko Riau-Kepri, 2021)

Memasuki tahun 2020, dunia dikejutkan dengan fenomena global yaitu pandemi Covid-19. Wabah virus Covid-19 yang oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 tidak akan berakhir dengan cepat dan berpotensi menjadi endemik baru yang hidup di tengah masyarakat.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mencetuskan New Normal sebagai sebuah tahapan baru dimulainya kehidupan dimana New Normal ini menjadi model kehidupan baru dan diadaptasi oleh hampir semua negara dan menjadi referensi, khususnya berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat. Selama era ini, seluruh komponen masyarakat perlu mengubah pola hidup dan kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, tentu dengan berbagai aturan protokol kesehatan yang wajib diikuti.

Salah satu sektor yang mengalami perubahan cukup besar saat ini adalah sektor Pendidikan. Perubahan tersebut mencakup perubahan perilaku hidup sehat dan perilaku selama menempuh pendidikan.
Di era New Normal saat ini dunia pendidikan dipaksa oleh keadaan beradaptasi dengan cepat, menteri Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia Nadiem Makarim sudah mengeluarkan pernyataan bahwa masing-masing institusi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi mulai menyiapkan diri dalam penyelenggaraan pendidikan di era New Normal.

Penerapan physical distancing sebagai faktor utama New Normal menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan yang biasanya mempertemukan pendidik dengan siswa/mahasiswa dalam proses belajar mengajar konvensional tatap muka. Karena itu peran pemerintah melalui institusi pendidikan wajib mencari solusi terkait bagaimana proses belajar mengajar dapat berjalan efektif tanpa mengabaikan peran pengajar.

Indonesia perlu belajar kepada negara di belahan dunia yang sudah duluan memakai metode belajar e-learning (virtual) yang kemudian dapat diadopsi melalui inovasi-inovasi baru yang bisa disesuaikan dengan kondisi didaerah mengingat demografis dan geografis indonesia memiliki banyak hambatan-hambatan proses belajar secara daring seperti fasilitas tekhnologi, jaringan internet, kesiapan pendidik dan konten belajar yang baik harus segera dicarikan solusinya.

Dunia pendidikan dalam era New Normal perlu melakukan transformasi di segala aspek sehingga dapat terus survive dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berdaya saing. Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan secara konvensional tatap muka di kelas, saat ini dapat dikombinasikan dengan metode e-learning (virtual) atau sering disebut dengan blended learning.

Mengacu pada himbauan pemerintah menggunakan kaidah-kaidah yang sesuai dengan penerapan New Nomal, institusi pendidikan harus mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pembelajaran konvensional tatap muka di ruang kelas yang dikombinasikan dengan metode virtual. Yaitu membuat jadwal mata pelajaran virtual yang tidak begitu panjang waktu belajarnya, namun membuat situasi belajar mengajar menjadi bermakna.

Pembelajaran dan berbagai kecakapan hidup tidak hanya dititik beratkan pada selesainya target kurikulum dan tersampaikan pengetahuan pada peserta didik atau hanya memperhatikan kognitifnya saja. Sekolah juga mulai merancang ekstrakurikuler yang bisa dilakukan secara virtual, dimana ekstrakulikiler seperti bidang olahraga, pramuka dan ekstrakurikuler lain yang menitik beratkan pada psimotorik dapat berjalan kembali.

Selanjutnya, Carman mengungkapkan terdapat beberapa kunci untuk melaksanakan pembelajaran dengan sistem blended learning ini seperti;
Live Event yaitu Pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronis dalam waktu dan tempat yang sama (pembelajaran langsung) ataupun waktu sama namun tempat yang berbeda (pembelajaran virtual). Pola pembelajaran langsung perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai dengan kebutuhan. Pola ini bisa mengkombinasikan teori belajar behaviorism, cognitivism, dan contruktivism agar terwujud pembelajaran yang bermakna.

Self-Paced Learning. Pada bagian ini, Self-Paced Learning mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri yang memungkinkan peserta didik kapan saja, di mana saja dengan menggunakan berbagai konten belajar dirancang untuk pembelajaran mandiri baik dalam bentuk bacaan teks ataupun pembelajaran multimedia (vidio, animasi, simulasi, audio, gambar, atau kombinasi dari seluruhnya).

Colaboration. Pada bagian ini, seorang pendidik maupun peserta didik dapat melakukan proses pembelajaran berbasis lintas sekolah. Oleh sebab itu, penerapan metode blended learning harus merancang dalam bentuk kolaborasi, baik antar teman sejawat maupun kolaborasi antara peserat didik dan pendidik melalui sarana atau tools komunikasi yang memadai, seperti classroom, forum diskusi, website, mobile phone, dan lain-lain.

Assessment. Pada bagian ini, Pendidik mampu untuk merancang kombinasi penilaian, baik bersifat tes maupun non-tes serta perlu juga untuk mempertimbangkan bentuk-bentuk penilaian online dan penilaian offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti dan melakukan penelitian.
Performance Support Materials. Pada bagian ini, jika ingin melakukan mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dalam kelas dan virtual harus memperhatikan kesiapan sumber daya untuk mendukung implementasinya.

Selanjutnya, proses pembelajaran tatap muka dapat dibagi menjadi beberapa kelompok belajar untuk menerapkan jaga jarak antar siswa dan tatap muka hanya memberi penjelasan, sementara sisanya belajar dari rumah sehingga penggunaan metode yang inovatif dan kreatif sangat ditekankan oleh para guru. Selain itu, guru dan orang tua menjalin kerjasama dalam mendukung pembelajaran siswa di rumah.

Protokol kesehatan selalu menjadi prioritas sekolah dalam proses pembelajaran di sekolah di tengah pandemi dengan jalan mengsosialisakn langkah operasional penangan covid-19 dan melakukan simulasi penerapan new normal di sekolah serta menyiapkan mental para siswa. Konsep yang dapat ditawarkan yaitu dengan pembagian jam belajar di sekolah di antaranya membagi kelompok belajar siswa dengan menerapkan pembagian waktu belajar, seperti ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang atau kelompok pertama masuk pekan pertama dan kelompok belajar kedua masuk pekan selanjutnya. Hal ini dilakukan untuk dapat mengakomodasi runag kelas agar para siswa yang masuk kelas secara bertahap, tapi dibagi dua untuk menerapkan physical distincing dan setiap meja belajar dan kursi hanya bisa diisi satu siswa saja.

Namun dibalik sulitnya semua sektor kehidupan di masa Pandemi Covid-19. Ada hal positif yang dapat ditarik dan tidak bisa diabaikan bagi dunia pendidikan. Masa pandemi ini merupakan momentum yang baik untuk berubah, sekolah dipaksa oleh lingkungan untuk memberikan pelayanan pendidikan tidak secara tatap, tetapi melalui media online, hal ini memberi pelajaran dan pengalaman baru bagi pendidik, peserta didik dan orang tua, dimana semua dituntut agar membiasakan diri memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi dan berkomunikasi.

Secara langsung Covid-19 mendorong pendidikan secara virtual cepat berkembang. Dengan pemanfaatan tehnologi dalam pembelajaran, diharapkan pembelajaran akan lebih bisa diarahkan pada upaya perbaikan secara terus menerus, efektif-efisien, benar, dan objektif. Pemanfaatan teknologi ini akan memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk melakukan berbagai macam modeling dalam menerapkan kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran jarak jauh mengunakan media digital akan menjadi permanen. Bukan berarti situasi akan kembali normal karena dalam kenyataannya pendidikan era new normal telah menggeser pendidikan era normal. Sehingga dimasa akan datang segala kegiatan sekolah benar-benar dialihkan ke pembelajaran online dan fungsi ruang kelas lama kelamaan akan hilang, tergantikan kelas-kelas dengan media virtual, saat ini memang butuh upaya ekstra untuk mengkolaborasikan antara sistem pendidikan konvensional dan digital. Karena pembelajaran secara online saat ini hanya dimungkinkan untuk kognitif transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun kompetensi terkait psikomotorik dan afektif masih harus membutuhkan proses pendidikan dengan cara kovensional yaitu tatap muka.

Meskipun belum sampai ke tatanan nasional, karena masih banyak kendala yang dihadapi sekolah antara lain bagi yang tidak memiliki akses infrastruktur serta terbatasnya kemampuan menyediakan sarana internet. Akan tetapi, setidaknya pengalaman belajar dari rumah menggunakan media online saat ini dapat dijadikan salah satu bukti bahwa, guru Indonesia juga bisa belajar dan berubah cepat.

Dalam satu tahun terakhir ini konsep pendidikan tradisional telah berubah secara radikal, yang semula banyak dari para pendidik menganggap metode belajar e-learning (virtual) adalah kemustahilan, namun saat ini mereka sudah belajar dan mengalami sendiri. Menginjak fase baru dalam dunia pendidikan, dimana mau tidak mau semua harus siap menjalankan pembelajaran dengan metode e-learning (virtual). Anggap saja proses pembelajaran online saat ini sebagai langkah awal memulai revolusi pendidikan di Indonesia.

Share :

Baca Juga

Pendidikan

160 Kepala Sekolah Di Aceh Utara Dilatih Pahami Tugas Pokok

Pendidikan

Learned Helplessness Pada Remaja Yang Mengalami Bullying

Kesehatan

Social Distancing: Solusi Ampuh Mengurangi Lonjakan Kasus Covid-19

Pendidikan

Teori Kognitif Sosial : Walter Mischel

Pendidikan

Kolaborasi MPBEN USK dan ESA USK Adakan Postgraduate Student Public Lecture