Home / Opini

Senin, 27 Februari 2023 - 04:32 WIB

Aceh, Perempuan dan Golput

Foto: Zulhaini Sartika (tengah)/Instagram @zulhaini_saetika

GUBRIS.COM– Pemilihan umum merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan demokrasi sebuah negara. Pemilihan umum memberikan hak suara kepada masyarakat untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang akan mewakili mereka di lembaga-lembaga pemerintahan. Namun, di beberapa negara, tingginya angka abstain atau golput dalam pemilihan umum sering menjadi isu yang memprihatinkan. Hal ini juga terjadi di Indonesia, terutama dalam pemilihan umum sebelumnya.

Abstain atau golput dalam pemilihan umum merujuk pada pemilih yang memilih untuk tidak memberikan suara atau tidak memilih sama sekali. Pemilih yang tidak memberikan suara dapat memilih untuk tidak masuk ke tempat pemungutan suara, atau masuk ke tempat pemungutan suara namun tidak memberikan suara atau memilih kosong.

Tingginya angka abstain atau golput dalam pemilihan umum sebelumnya di Indonesia menjadi isu yang memprihatinkan karena berdampak pada legitimasi dan kredibilitas pemilihan umum serta demokrasi secara keseluruhan. Dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden pada tahun 2019, misalnya, angka partisipasi pemilih hanya mencapai sekitar 80%, sedangkan sekitar 20% atau sekitar 37 juta pemilih memilih untuk tidak memberikan suara.

Diperkirakan di Aceh tidak jauh berbeda dengan rata-rata nasional di Indonesia, yang pada pemilihan umum terakhir pada tahun 2019 mencapai sekitar 25 persen dari total pemilih yang terdaftar. Hal ini juga dapat menjadi indikator keterlibatan politik warga Aceh dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap proses politik di Indonesia yang mengindikasikan rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum.

Ada Beberapa faktor penyebab dan tantangan yang menyebabkan tingginya angka golput di Aceh antara lain:

1. Kondisi sosial dan budaya yang konservatif.

Aceh memiliki kondisi sosial dan budaya yang konservatif, di mana masyarakatnya cenderung lebih memilih untuk menyelesaikan masalah secara adat atau tradisional. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat enggan untuk terlibat dalam proses politik yang dianggap sebagai hal yang baru dan asing.

2. Keterbatasan akses informasi.

Keterbatasan akses informasi yang memadai tentang pemilihan umum menjadi kendala bagi masyarakat dalam menentukan pilihan mereka. Ketersediaan informasi yang kurang akurat atau bahkan tidak akurat dapat membingungkan masyarakat dalam memilih calon atau memutuskan apakah mereka akan menggunakan hak suaranya atau tidak.

3. Kualitas calon-calon pemimpin.

Kualitas calon-calon pemimpin menjadi faktor penting yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum. Bila calon-calon pemimpin tidak memenuhi harapan masyarakat, seperti tidak memiliki program kerja yang jelas atau memiliki rekam jejak yang buruk, maka hal tersebut dapat menyebabkan masyarakat enggan untuk memberikan dukungan atau menggunakan hak suaranya.

4. Kurangnya kesadaran politik masyarakat.

Kurangnya kesadaran politik masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya angka golput di Aceh. Masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya partisipasi politik dan pengaruhnya terhadap masa depan negara, dapat menganggap bahwa pemilihan umum hanya sebagai formalitas yang tidak memiliki pengaruh signifikan.

Baca Juga  Sosok Hasan Tiro Sulit Dicari Penggantinya di Aceh

5. Kondisi keamanan dan stabilitas yang kurang kondusif.

Kondisi keamanan dan stabilitas yang kurang kondusif dapat membuat masyarakat merasa tidak aman dan enggan untuk terlibat dalam proses pemilihan umum. Konflik politik atau konflik sosial yang masih berlangsung di Aceh dapat mempengaruhi partisipasi politik masyarakat dan menyebabkan tingginya angka golput.

6. Pemahaman masyarakat tentang hak pilih yang masih rendah.

Pemahaman masyarakat tentang hak pilih masih rendah di Aceh, di mana masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui hak mereka untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat enggan untuk menggunakan hak suaranya atau bahkan tidak memahami cara menggunakan hak suaranya secara benar.

7. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses politik.

Kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses politik menjadi faktor penting yang mempengaruhi tingginya angka golput di Aceh. Partisipasi masyarakat dalam proses politik dapat memperkuat tata kelola demokrasi, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan, serta menghasilkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Untuk berbagai upaya untuk mengurangi angka golput di Aceh, diperlukan solusi-solusi yang efektif dalam mengatasi dan menanganinya, diantaranya :

1. Meningkatkan sosialisasi dan pendidikan politik.

Meningkatkan sosialisasi dan pendidikan politik adalah solusi yang efektif untuk mengurangi tingginya angka golput di Aceh. Pemerintah dapat mengadakan kampanye atau program sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya partisipasi politik dalam pemilihan umum. Selain itu, pendidikan politik dapat ditingkatkan di sekolah-sekolah untuk meningkatkan kesadaran politik siswa.

2. Menyediakan informasi yang transparan dan mudah diakses.

Menyediakan informasi yang transparan dan mudah diakses tentang calon-calon yang bertarung dalam pemilihan umum juga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan informasi yang akurat, masyarakat akan lebih mudah memilih calon yang sesuai dengan keinginan mereka.

3. Meningkatkan kualitas calon-calon pemimpin.

Meningkatkan kualitas calon-calon pemimpin dan wakil rakyat dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. Calon pemimpin dan wakil rakyat yang memiliki reputasi baik, memiliki program kerja yang jelas, dan mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat akan lebih mudah dipilih oleh masyarakat.

4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kondisi sosial dan ekonomi yang buruk dapat mempengaruhi partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum. Oleh karena itu, pemerintah dapat melakukan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti memberikan bantuan sosial, membangun infrastruktur, dan meningkatkan lapangan kerja. Hal ini dapat meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum.

5. Meningkatkan keamanan dan stabilitas di Aceh.

Kondisi keamanan yang kurang stabil dapat membuat masyarakat merasa tidak aman dalam proses pemilihan umum. Oleh karena itu, pemerintah dapat meningkatkan keamanan dan stabilitas di Aceh dengan cara meningkatkan kehadiran aparat keamanan, menyelesaikan konflik-konflik yang masih berlangsung, dan melakukan dialog dengan berbagai pihak untuk mencari solusi bersama.

6. Melibatkan masyarakat dalam proses politik.

Melibatkan masyarakat dalam proses politik dapat meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum. Pemerintah dapat mengadakan forum-forum diskusi, dialog, atau pertemuan dengan masyarakat untuk mendengarkan aspirasi dan keluhan mereka. Selain itu, pemerintah juga dapat memperkuat lembaga-lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat seperti LSM atau partai politik.

Baca Juga  2 Tahun Berjalan, Pengurus IMPS Dinilai Gagal Menjalankan Amanah Organisasi

Keberhasilan dari berbagai solusi tersebut sangat ditentukan oleh keterlibatan berbagai pihak, salah satunya adalah perempuan, dimana perempuan memiliki pengaruh besar dalam keluarga dan masyarakat. Sebagai ibu dan istri, perempuan di Aceh dapat mempengaruhi keputusan keluarga dalam memilih kandidat pada pemilihan umum. Perempuan juga memiliki pengaruh dalam komunitas, sehingga mereka dapat mempengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih kandidat.

Namun, angka golput di Aceh masih cukup tinggi, meskipun perempuan memiliki potensi besar untuk menguranginya. Oleh karena itu, perempuan di Aceh perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi politik dan memilih. Perempuan dapat menggunakan pengaruh mereka sebagai ibu dan istri untuk mengajarkan anak-anak dan pasangan mereka tentang pentingnya memilih dalam pemilihan umum.

Perempuan juga dapat meningkatkan kualitas kandidat yang tersedia dengan memilih kandidat yang memiliki integritas, kompetensi, dan mampu mewakili kepentingan masyarakat dengan baik. Dalam beberapa pemilihan umum terakhir, banyak kandidat yang hanya berjanji tanpa memberikan bukti nyata tentang kemampuan mereka dalam memimpin. Oleh karena itu, perempuan perlu memilih kandidat yang memiliki rekam jejak yang baik dan terbukti mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Perempuan juga dapat memanfaatkan hak mereka sebagai pemilih untuk memilih kandidat perempuan. Dalam beberapa pemilihan umum terakhir, hanya sedikit kandidat perempuan yang berhasil terpilih, meskipun jumlah pemilih perempuan sebenarnya cukup signifikan. Oleh karena itu, perempuan perlu memilih kandidat perempuan yang memiliki kualitas dan integritas yang baik agar perempuan dapat memiliki peran yang lebih besar dalam politik.

Perempuan juga dapat berperan sebagai pengawas pemilihan umum. Dalam peran ini, perempuan dapat memastikan bahwa proses pemilihan umum berjalan dengan adil dan demokratis. Sebagai pengawas pemilihan umum, perempuan dapat memastikan bahwa tidak ada kecurangan dalam pemilihan umum, seperti politik uang, intimidasi pemilih, atau manipulasi data.

Terakhir, perempuan juga dapat mengadakan acara kampanye politik dengan cara yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Misalnya, perempuan dapat mengadakan kampanye politik dengan melibatkan seni dan budaya lokal, seperti tari-tarian atau lagu-lagu daerah. Hal ini dapat menarik perhatian dan minat masyarakat untuk mengikuti kampanye politik, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap proses politik secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, peran perempuan dalam mengurangi angka golput di Aceh sangat penting. Perempuan dapat menggunakan pengaruh mereka dalam keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan partisipasi politik dan memilih, serta memilih kandidat yang berkualitas dan terbukti mampu mewakili kepentingan perempuan.

Penulis: Zulhaini Sartika, Presidium KAHMI Kota Banda Aceh dan juga Dosen di Universitas Serambi Mekkah, Aceh

Editor: Redaksi gubris.com

 

 

 

 

 

Share :

Baca Juga

News

2 Tahun Berjalan, Pengurus IMPS Dinilai Gagal Menjalankan Amanah Organisasi

Opini

“Jatuh Cinta Berkali-kali”

Opini

Petrus, Solusi Kriminal Yang Merajalela Saat Ini

Opini

Mengulik Ranjang Kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh; Berbagi Tugas ataukah Merenggang?

Opini

Ketidakseriusan Perbankan Syariah Dinilai Melemahkan Qanun LKS di Aceh

Opini

Understanding Woman Empowerment in Today’s Digital Era

Opini

Gayo Lues Tingkat Populasi Stunting Tertinggi di Aceh

Kesehatan

Social Distancing: Solusi Ampuh Mengurangi Lonjakan Kasus Covid-19